ANALISIS SWOT MANAJEMEN KURIKULUM MADRASAH ALIYAH PROGRAM KEAGAMAAN

ANALISIS SWOT MANAJEMEN KURIKULUM MADRASAH ALIYAH PROGRAM KEAGAMAAN DI MAN 1 SURAKARTA 


Pendahuluan
Kurikulum sebagai salah satu bagian terpenting dalam pendidikan, harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik, sehingga akan mencapai hasil yang memuaskan sesuai dengan harapan semua pihak. Kurikulum disini tidak dimaksudkan dalam pengertian sempit, yaitu kumpulan mata pelajaran/bahan ajar yang harus dipelajari oleh siswa/santri. Akan tetapi, kurikulum dalam pengertian yang luas, yaitu pengalaman belajar yang direncanakan untuk mencapati tujuan pendidikan. Atau sebagaimana kurikulum yang diartikan oleh Nana Syaodih Sukmadinata sebagai rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah.[1] Di sinilah manajemen kurikulum sangat diperlukan dalam institusi pendidikan. Manajamen di sini diartikan sebagai suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya agar efektif dan efisien.

Pembahasan 
Berkaitan dengan manajemen kurikulum, maka Dalam analisis ini, penulis menganalisis jurnal milik Norma Chunnah Zulfa, Pardjono mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan PPs UNY, Universitas Negeri Yogyakarta. Adapun jurnal tersebut berjudul “manajemen kurikulum madrasah aliyah program keagamaan MAN 1 Surakarta”.
1. Teori yang digunakan 

Dalam mengembangkan sebuah manajemen kurikulum di suatu lembaga tentu menggunakan dasar teori yang di dapat dijadikan suatu acuan. Dalam jurnal yang di tulis oleh Norma Chunah dan Pardjono, ia menggunakan teori 

a. M.Qomar tentang Manajemen pendidikan Islam merupakan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam yang memuat komponen-komponen dasar manajemen pendidikan Islam yang mutlak harus ada dalam proses pendidikan Islam yaitu manajemen personalia, kesiswaan, kurikulum, dan sarana prasarana pendidikan Islam. Dan Melalui manajemen kurikulum untuk pendidikan Islam diharapkan mampu mewujudkan pengelolaan kurikulum yang mendukung pencapaian tujuan pendidikan Islam itu sendiri.[2]

b. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan diatur secara lebih rinci melalui Permenag Nomor 2 Tahun 2008 tentang standar kompetensi dan standar isi pendidikan agama Islam dan bahasa arab di madrasah, serta memperhatikan surat edaran dirjen pendidikan islam nomor DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006 tanggal 1 agustus 2006 tentang pelaksanaan standar isi yang intinya bahwa madrasah dapat meningkatkan kompetensi lulusan dan mengembangkan kurikulum dengan standar lebih tinggi. Struktur kuri- kulum madrasah untuk mata pelajaran pendidikan agama Islam dirinci menjadi empat mata pelajaran yaitu al-qur’an hadits, akidah akhlak, fikih, dan sejarah, kebudayaan Islam. 

c. Pembelajaran pagi dilaksanakan untuk memenuhi standar kompetensi lulusan siswa MAPK yang tertera dalam Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan pen- didikan dasar dan menengah dan Perme- nag Nomor 2 Tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama islam dan bahasa arab di madrasah.

d. Sukmadinata menyebutkan bahwa komponen kurikulum antara lain: tujuan, bahan ajar, strategi mengajar, media mengajar, evaluasi peng- ajaran, penyempurnaan pengajaran. Kurikulum memiliki tiga peran yaitu: (1) peranan konservatif melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu, (2) peran kreatif bermakna bahwa kurikulum harus mampu menjawab setiap tantangan sesuai dengan perkembagan dan kebutuhan masyarakat yang cepat berubah, (3) peran kritis dan evaluatif yaitu menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu dipertahankan, dan nilai atau budaya baru mana yang harus dimiliki anak didik.[3]

e. Lunenberg & Orstein menyebutkan bahwa pengembangan kurikulum terdiri dari tiga proses yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.[4]


2. Metode penelitian
Jenis Penelitian pada jurnal ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus karena penelitian ini mengkaji tentang manajemen kurikulum madrasah aliyah program keagamaan di MAN 1 Surakarta dilihat dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kurikulum, dan faktor yang menjadi kendala manajemen kurikulum MAPK secara mendalam.


3. Hasil/temuan penelitian
Hasil penelitian mengenai manajemen kurikulum MAPK terdiri dari empat pokok hasil temuan yaitu:
a. Perencanaan Kurikulum MAPK MAN 1 Surakarta.
b. Proses Penyusunan Kurikulum MAPK MAN 1 Surakarta.
c. Evaluasi Kuriksulum MAPK MAN 1 Surakarta.
d. Kendala dalam Manajemen Kurikulum MAPK MAN 1 Surakarta.


4. Pembahasan 
Berdasarkan hasil temuan yang dilakukan dalam penelitian menunjukkan bahwa, perencanaan kurikulum dilakukan melalui workshop berpedoman pada kurikulum nasional, pengembangan keunggulan lokal, dan adaptasi sistem pondok pesantren. Evaluasi kurikulum dilakukan dalam bentuk ujian semester, ujian madrasah dan ujian nasional menggunakan bahasa arab. Faktor-faktor kendala manajemen kurikulum MAPK antara lain: modul program keagamaan belum baku dan buku diktat kurang sistematis; kurangnya ketelatenan guru membuat perangkat pembelajaran dan pe- nguasaan teknologi komputer; sarana prasarana yang belum memadai; masalah kedisiplinan siswa MAPK dalam mengikuti pembelajaran; padatnya kegiatan sekolah, asrama, dan orga- nisasi mengurangi fokus belajar siswa; dan kemampuan bahasa anak yang belum mampu memahami teks secara keseluruhan.
Salah satu konsep baru yang diperkenalkan dalam manajemen sekolah adalah analisis SWOT. Yaitu rancangan yang disusun, dirumuskan, dan sebagai pedoman dan kerangka program pengembangan lembaga pendidikan yang harus dilakukan. Adapun rancangan tersebut adalah: Strenght, Weakness, Opportunity, Threats. [5]
1. Strenght (kekuatan) pengembangan keunggulan lokal, dan adaptasi sistem pondok pesantren sehingga tampak kekhasan kurikulum MAPK berupa penguasaaan ilmu agama islam, bahasa arab & inggris, dan kajian kitab yang diwujudkan dalam struktur dan muatan kurikulum mayoritas pelajaran agama Islam yang diajarkan menggunakan bahasa pengantar bahasa arab.
2. Weakness (kelemahan), kendala yang dihadapi oleh MAPK dalam melaksanakan manajemen kurikulum muncul dari berbagai faktor diantaranya modul untuk program keagamaan belum baku dan kitab muqorror kurang sistematis, sarana prasarana yang belum memadai, masalah kedisiplinan anak, padatnya kegiatan mengurangi fokus belajar anak, dan kemampuan bahasa anak yang belum mampu memahami teks secara keseluruhan.
3. Opportunity (peluang), Ketercapaian kurikulum MAPK dilihat dari beberapa aspek yaitu tingkat kelulusan siswa, daya saing di luar madrasah, penguasaan kemampuan berbahasa dan penguasaan ilmu-ilmu agama islam, Kemudian penguasaan ilmu-ilmu agama islam siswa MAPK cukup mendalam, mampu memahami dari sumber kitab asli berbahasa arab, penguasaan bahasa asing terlihat siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa arab dan inggris dalam kegiatan sehari-hari, mengukir prestasi di berbagai perlombaan tingkat daerah maupun nasional.
4. Threats (tantangan), Kondisi laboratorium bahasa sedang mengalami kerusakan yaitu tidak adanya peralatan audio untuk pelaksanaan pelajaran bahasa terutama listening se- hingga pembelajaran bahasa menjadi ter- hambat. Pada akhirnya guru hanya meng- gunakan peralatan audio berupa speaker yang kurang representative untuk pelajaran bahasa terkait pengembangan liste- ning skill.



Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah di jelaskan sebelumnya disimpulkan bahwa jurnal yang di tulis oleh Norma Chunnah dkk. Dalam penulisannya mengacu pada teori yang di paparkan oleh, Pertama, M. Qomar Kedua, Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Ketiga, Sukmadinata Keempat, Lunenberg & Orstein.

Dalam metode penelitiannya menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Serta menemukan hasil Perencanaan, Proses.Evaluasi dan Kendala dalam Manajemen Kurikulum MAPK MAN 1 Surakarta.

Adapun sebagai pedoman dan program pengembangan dari hasil penelitian tersebut, penelaah menganalisi menggunakan Analisi SWOT yang meliputi Strenght yaitu keunggulan yang ada pada lembaga tersebut menerapkan sistem seperti pondok pesantren, sehingga tampak kekhasan kurikulumnya. Weaknes yaitu modul yang digunakn masih bekum baku dan kitabnya pun masih moqorror alias belum sistematis, sehingga proses pembelajarnnya masih belum maksimal. Opportunity, yaitu ketercapaian kurikulum dilihat dari tingkat kelulusan siswa, daya saing di luar madrasah, penguasaan kemampuan berbahasa dan penguasaan ilmu-ilmu agama islam, yang di tunjukkan melalui pretasi siswa mengkiti komptisi dengan l;embaga lain. Threats, yaitu: tidak adanya peralatan audio untuk pelaksanaan pelajaran bahasa terutama listening sehingga pembelajaran bahasa menjadi terhambat. 




Daftar rujukan

F. C, Lunenberg dkk. 2000 Educational administration: concept and practices (3 ed). United stades of America: Wadsworth 
Machalli Imam, dkk. 2006. The Handbook of Education Management. Jakarta: PT Fajar Interpratama  Mandiri
Qomar. M . 2002. manajemen Pendidikan Islam Malang. Malang : Erlangga. 
Sukmadinata. N.S . 2012. Pengembangan kurikulum teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya



[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2012), 150.
[2] M.Qomar. manajemen Pendidikan Islam Malang. (malang : Erlangga. 2002), 128
[3] N.S Sukmadinata. Pengembangan kurikulum teori dan Praktek. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2012), 102-112 
[4] Lunenberg F. C dan Orstein , C. A. Educational administration: concept and practices (3 ed). (United stades of America: Wadsworth, 2000 ), 444
[5] Imam machalli dan Ara hidayat , The Handbook of Education Management, (Jakarta: PT FAjar Interpratama Mandiri, 2006), 213

Admin Bloger

Semua ada ditangan kita.. jangan takut dengan perubahan

Post a Comment (0)
Previous Post Next Post